: Wow !!!
Demikian decak terlontar
di panggung pertunjukan
saat Semar mendaulat diri sebagai tuhan,
tapi entah karena setuju atau
merasa geli
justru penonton bersorak.
Simpati
:ckk-ckk-ckk…
: Wow !!!
Demikian decak terlontar
di panggung pertunjukan
saat Semar mendaulat diri sebagai tuhan,
tapi entah karena setuju atau
merasa geli
justru penonton bersorak.
Simpati
:ckk-ckk-ckk…
Katamu:
sudah tiba saatnya rakyat berteriak
menuntut hak yang katanya milik rakyat
tapi mengapa malah
kau bungkam di kotak-kotak suara, sembari
melontarkan janji-janji dan
mendaulat diri sebagai wali rakyat
padahal tak sedikit pun mengerti keluh
apalagi kidung sunyi di hati rakyat
Katamu:
sudah saatnya reformasi
bersuara demi pembaharuan, tapi
kenapa malah kini kau suruk
sejumput mimpi dalam letih kami
lalu menghempas di bibir ketidakberdayaan?
Sungguh kami tidak mengerti sajak-sajak janjimu itu. Sungguh
Berbicara tentang Hidup maka kita akan berbicara tentang KETIDAKPASTIAN yang merupakan ciri khas dari kehidupan itu sendiri.
Mungkin saja kamu pernah berpikir untuk merangkai maa depan dengan kebahagian. atau mungkin juga kamu telah merancang suatu perjalanan hebat esok hari. Tapi semua itu lenyap dan berubah kapan saja karena hidup adalah Ketidakpastian itu sendiri.
Well,ketidakpastian itulah yang aku alami saat ini. Beberapa saat yang lalu aku telah merangkai mimpi tentang esok. Setelah menjadi salah satu pemenang dari ketatnya persaingan hidup, aku pikir tidak ada masalah lagi. Aku cuma perlu menjalani kemenanganku dan mewujudkan mimpi yang sempat tertunda.
Tapi ternyata dunia berkata lain. Kemenangan yang kuperoleh ternyata awal perjuanganku untuk selanjutnya karena ujian-ujian yang lain telah menanti. Bila aku mundur maka sia-sialah kemenangan itu juga pengorbanan yang tidak dapat dikategorikan kecil. Tidak ada pilihan.
Aku harus maju.
Yup, karekater kehidupan selanjutnya adalah Tidak adanya pilihan. Kadang-kadang hal itu menjadi hal yang begitu sulit bagiku. Suka tidak suka aku harus suka.
Sementara di lain pihak, kesadaran akan kelemahan mulai menciutkan nyali. sadar akan faktor usia, kemampuan yang minim, tenaga yang kian terkuras dan kelemahan-kelemahan lainnya. Kesadaran akan kelemahan yang saya miliki membuat saya kian pasrah.
Well, nyatanya aku cuma bisa berkata diriku sendiri. Pasrah saja. Biar waktu yang menjawab.