FairyTaLe's

Simple Girl with simple Dreams

Enam Tahap Mengakrabi Puisi September 8, 2009

Filed under: Pernik'S — fairy2785 @ 8:45 am
Tags: , ,

1. Tahap Tahu Puisi.
Ini tahap awam. Sebagian besar orang berada pada tahap ini.
Sebagian besar orang pernah membaca satu dua bait atau satu dua puisi. Paling tidak orang bertemu puisi dalam pelajaran bahasa dan sastra di sekolah.
Orang yang tahu puisi, bukan orang yang peduli pada puisi. Ia bisa hidup nyaman-nyaman saja tanpa puisi. Dia dan puisi adalah dua orang tak saling kenal yang kalau bertemu tak perlu harus menggelar perbincangan, bahkan mungkin tak perlu bersapaan.

2. Tahap Kenal Puisi.
Orang yang kenal puisi mulai sering membaca – bukan meresitalkan – puisi, meskipun tidak rutin. Dia ingat beberapa nama penyair dan puisinya. Dia suka menuliskan puisi sendiri, untuk diri sendiri, atau untuk orang-orang terdekatnya saja.
Puisi baginya seperti ibadah sunat, dikerjakan dapat nikmat, tidak dikerjakan tidak berkurang nikmatnya. Dia dan puisi seperti kawan yang saling sapa dan menjabat tangan kalau bertemu. Saling bertanya kabar, meskipun kadang hanya tanya berbasa-basi.

3. Tahap Perlu Puisi.
Pada tahap ini seseorang mulai menganggap puisi sebagai kebutuhan.
Dia rutin menulis dan membaca puisi. Dia mengoleksi buku puisi. Dia ingin tahu lebih banyak tentang hakikat puisi. Dia mulai bisa merasakan mana puisi bagus, dan mana puisi buruk, dan bisa menunujukkan keunggulan dan kelemahan puisi itu.
Dia menulis puisi dan mulai peduli apa pendapat orang tentang puisinya. Dia menikmati penulisan puisi itu. Dia butuh menulis puisi. Puisi ibarat orang yang dia taksir dan ingin dia pacari. Dia belum menyatakan cintanya, tapi dia ingin tahu banyak dan seperti terseret untuk lebih dekat, lebih banyak kenal.

4. Tahap Mahir Puisi.
Pada tahap ini, orang sudah percaya diri menunjukkan puisinya pada orang lain. Puisinya tersiar di beberapa terbitan. Puisinya tergabung pada beberapa antologi. Dia telah menerbitkan puisi.
Dia suka memperhatikan puisi-puisi orang lain, untuk menambah kemahirannya . Dia suka meresitalkan puisinya atau puisi orang lain. Dia mulai tahu bagaimana puisi yang baik dan terus menerus ingin memperbaiki puisinya.
Secara teknis dia tak bermasalah lagi dengan puisi. Dia telah membuka diri bahwa dia telah menjalin hubungan khusus dengan puisi. Dia telah memacari puisi.

5. Tahap Cinta Puisi.
Dia telah menemukan dirinya dalam puisi.
Dia mencintai puisi seperti mencintai dirinya. Dia menghargai dirinya dengan lebih baik, sebaik dia menghargai puisinya dan puisi lain yang ditulis orang lain.
Dia menulis puisi untuk meyakinkan bahwa dirinya berharga untuk terus ada. Dia ingin orang lain membaca puisinya seperti orang membaca dirinya. Dia bisa membuat orang menghargai puisinya seperti menghargai dirinya.
Dia membaca puisi orang lain dan dengan nyaman juga seperti bertemu bagian-bagian dari dirinya ada dalam puisi itu. Dia seperti telah menikahi puisi. Dia berumah tangga dan membangun kehidupan yang berbahagia dengan puisi.

6. Tahap Arif Puisi.
Ini tahap tertinggi. Orang yang sudah mencapai kearifan berpuisi. Dia tak ada beban lagi harus menulis puisi atau tidak, tapi dia terus saja menulis puisi sebagai laku hidup, seperti bernapas.
Puisi itu penting buatnya tapi dia melakukannya tanpa beban apa-apa. Dia tak ingin mencapai apa-apa lagi lewat puisi karena dia telah mencapai Puisi.
Dia seperti telah memahami hakikat yang Mahapuisi. Menyebut namanya, orang langsung mengingat puisi-puisinya. Dia sendiri telah menjelma menjadi semacam puisi juga. Menyebut puisi, orang bahkan dengan mudah jadi teringat pada dia juga.

 

Tujuh Hakikat Chairil September 8, 2009

Filed under: Tips Menulis — fairy2785 @ 8:33 am
Tags: , ,

BAGAIMANAKAH seorang penyair mengolah kehidupannya sebagai bahan sajak-sajaknya? Ini pertanyaan mendasar dan abadi. Tugas menyair adalah menjawab pertanyaan itu terus-menerus.

1. HAKIKAT POKOK & BAHAN.
Yang penting adalah hasil sajak yang dicapai, bukan bahan yang dipakai untuk membuat dan mencapai hasil sajak itu. Sajak terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dan sebagainya. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika melihat suatu lukisan atau sebuah patung, tidak akan menganggap kwalitet cat dan kain atau batu pualam sebagai soal yang penting, soal yang pokok. Bukanlah bahan-bahan yang dipakai yang penting; yang penting adalah hasil yang tercapai.

2. HAKIKAT BENTUK & ISI.
Hasil sajak bisa dinilai dari bentuk dan isi, tetapi kedua hal itu tidak bisa dipisahkan, keduanya bisa dilihat satu per satu tapi keduanya juga bisa dipandang sebagai satu hal yang padu. “Hasil” ini pada umumnya “terbagi” dalam bentuk dan isi. Tetapi “pembatasan” yang sangat nyata dan terang antara bentuk dan isi tidak pula bisa dikemukakan, sebab dalam kesenian, bentuk dan isi ini tidak hanya rapat berjalan sama.

3. HAKIKAT 1 POKOK & 2 CARA MENYATAKAN.
Satu pokok yang sama bisa menghasilkan dua sajak yang berbeda, sebab dua penyair yang berbeda memandang pokok yang sama tadi dengan perasaan yang berbeda, dan menyatakan perasaan tadi juga dengan perasaan yang berbeda.
Jika dua orang pelukis sama-sama melukiskan suatu bagian dari kota, bisa jadi kejadian yang lukisan satu mengagumkan kita, sedangkan lukisan yang lain jelek. Perbedaan bukankah jadinya terletak pada “pokok”, karena di sini pokok adalah sama. Perbedaan terletak dalam perasaan-perasaan yang mengiringi pemandangan di kota tadi, dan dalam cara bagaimana perasaan-perasaan itu mencapai pernyataannya.

4. HAKIKAT POKOK-POKOK & SATU SENIMAN.
Penyair tidak bergantung pada satu pokok saja. Dari pokok-pokok yang berbeda jauh, seorang penyair bisa menghasilkan sajak yang sama mengharukan perasaan pembaca.
Sebagaimana suatu pokok bisa mengesankan pada dua orang pelukis, begitu juga sebaliknya, dua pokok bisa meninggalkan keterharuan yang sama pada seorang pelukis. Lukisan yang sederhana dari sepasang sepatu tua bisa “sebagus” lukisan satu pot kembang yang berbagai warna. Karena yang tampak oleh kita bukanlah semata-mata sepatu tua itu, tapi adalah sepatu tua yang “terasa bagus” – dan karena si seniman sanggup menyatakan sepenuhnya dengan garis dan bentuk, karena itu pula maka bisa dia memaksa kita mengakui hasil keseniannya.

5. HAKIKAT TENAGA PERASAAN & PERKAKAS SAJAK.
Bahasa menyediakan perkakas sajak bagi penyair. Perkakas itu hanya alat bantu yang berguna bila si penyair punya tenaga perasaan untuk mencipta pokok sajak menjadi sajak.
Jadi yang penting ialah: si seniman dengan caranya menyatakan harus memastikan tentang tenaga perasaan-perasaannya. Perkakas-perkakas yang bisa dipakai oleh si penyair untuk menyatakan adalah bahan-bahan bahasa, yang dipakainya dengan cara intuitif. Dengan “memakaikan” tinggi-rendah dia bisa mencapai suatu keteraturan, dan dalam keteraturan ini diusahakannya variasi: irama dari sajaknya dipakainya sebagai perkakas untuk menyatakan. Lagu dari kata-katanya bisa pula dibentuknya sehingga bahasanya menjadi berat dan lamban atau menjadi cepat dan ringan. Dia bisa memilih kata-kata dan hubungan-kata yang tersendiri, ditimbang dengan saksama atau kata-kata itu menyatakan apa yang dimaksudnya. Bentuk kalimatnya bisa dibikinnya menyimpang dari biasa, dengan begitu mengemukakan dengan lebih halus, lebih pelik apa yang hidup dalam jiwanya.

6. HAKIKAT KETERHUBUNGAN PEMBACA & POKOK SAJAK.
Jika sajak yang istimewa sudah selesai, maka pembaca berhak menikmati keistimewaan itu. Kenikmatan yang diperoleh pembaca sajak tidak lagi ditentukan oleh hanya oleh perkakas yang dipakai oleh penyair, tetapi oleh kesamaan pautan perasaannya pada pokok sajak.
Dengan irama dan lagu, dengan kalimat dan pilihan kata yang tersendiri dan dengan perbandingan-perbandingan si penyair menciptakan sajaknya dan hanya jika si pembaca sanggup memperhatikan dengan teliti “keistimewaan” yang tercapai oleh si penyair, bisalah si pembaca mengertikan dan merasakan sesuatu sajak dengan sepenuhnya. Merasa sebuah sajak bagus tidaklah harus didasarkan atas suatu atau beberapa dari “perkakas” bahasa yang disebut tadi, tapi harus didasarkan atas kerja sama dan perhubungannya yang sama dengan “pokok”.

7. HAKIKAT MEMILIH POKOK & KETERHARUAN YANG BERULANG.
Penyair memilih – dengan sadar atau dengan tidak sadar – pokok-pokok mana yang ia ambil untuk ia sajakkan. Ia juga bisa digerakkan oleh satu pokok yang sama, lalu menyajakkannya berulang-ulang.
Bahwasanya pokok tidak menentukan nilai hasil kesenian, bukanlah berarti bahwa semua pokok bisa membawa keterharuan yang sama pada penyair. Sebaliknya malahan: sudah tentu saja bahwa berbagai peristiwa dalam alam dan dalam kehidupan manusia tidak kita hiraukan, karena dia tidak menduduki tempat yang “penting” dalam kehidupan kita. Percintaan, kelahiran, kematian, kesepian, matahari dan bulan, ketuhanan – inilah pokok-pokok yang berulang-ulang telah mengharukan si seniman.

 

Sembilan Aturan Sapardi * Perihal Sajak Lirik September 8, 2009

Filed under: Tips Menulis — fairy2785 @ 8:20 am
Tags: , , , ,

BUTIR-BUTIR berikut ini disarikan dari tulisan berjudul “Keremang-remangan Suatu Gaya”, yaitu sebuah ulasan Sapardi Djoko Damono atas sajak Abdul Hadi WM.

1. Sebuah sajak yang buruk biasanya berusaha “meyakinkan” pembacanya dan dengan demikian memaksanya saja untuk mendengar dengan pasif.

2. Perasaan yang paling khas dalam arti: yang paling banyak melibatkan manusia dari zaman ke zaman, adalah bahan terbaik untuk sajak lirik.

3. Penyair harus menjelmakan perasaan yang klise itu sebagai bahan sajaknya — misalnya cinta — dengan segar, menjadi sajak yang segar dengan ungkapan yang tidak klise, tetapi harus unik dan personal.

4. Untuk menuliskan sajak lirik yang baik, penyair harus cermat mengamati dan mencatat perasaan-perasaan sendiri dan peristiwa-peristiwa di alam sekitarnya.

5. Dua elemen penting dalam sajak lirik adalah menyatakan perasaan yang samar-samar dan dengan cara yang sederhana menyatukannya dengan alam sekitar.

6. Kesamar-samaran itu unik, dan dia akan menjadi tidak unik lagi, dan berhenti sebagai puisi – kalau ia digamblangkan.

7. Penyair harus sadar bahwa sebenarnya perasaan yang samar-samar itu tidak komunikatif, dan penyair harus mengkomunikasikannya, dengan bahasa, alat komunikasi.

8. Ujian bagi penyair lirik: ia mungkin tergelincir ke dalam sajak-sajak gelap, sajak-sajak yang sama sekali kehilangan kontak dengan pembaca atau ia menghasilkan sajak yang habis sekali baca bahkan tidak jarang sudah habis sebelum dibaca sampai terakhir.

9. Penyair harus meletakkan sajak liriknya tepat pada garis yang memisahkan kedua kemungkinan tersebut di atas. Itulah garis yang harus dicari, ditemukan dan dicapai oleh penyair lirik yang baik.

 

Delapan Saran Sapardi * Tentang Bagaimana Memainkan Citraan September 8, 2009

Filed under: Tips Menulis — fairy2785 @ 7:54 am
Tags: , , , ,

Citraan atau imagery adalah salah satu pembangun struktur fisik puisi bersama diksi, majas atau gaya bahasa dan persajakan bunyi.
Bagaimanakah seharusnya citraan itu dibangun oleh penyair? Apakah peran dari pencitraan itu bagi puisi? Sapardi Djoko Damono menulis telaah atas sajak Acep Zamzam Noor.

1. Citraan (imagery) adalah alat utama penyair dalam mengungkapkan pengalaman batinnya, alat itu tidak bisa dipisahkan dari dunia yang sangat dikenalnya.

2. Penyair harus menjaga kejujurannya ketika mengungkapkan pengalamannya dan bagaimana cara dia mengungkapkan pengalaman itu.

3. Sebagai tukang yang berurusan dengan kata, penyair harus menguasai sepenuhnya seluk-beluk penggunaan alatnya.

4. Yang harus diperhatikan oleh penyair adalah penguasaan alat, bukan kecenderungan umum yang mungkin sedang berlaku di dunia pertukangan itu.

5. Jika penyair memaksakan penggunaan alat yang tidak dikuasainya dengan baik, cara pengungkatapn dalam puisinya pasti terasa dibuat-buat dan dengan demikian pengalaman yang diungkapkannya juga terasa dangkal.

6. Setiap sajak, tentu saja, adalah percobaan; penyair bisa saja membuat percobaan dengan menggunakan alat yang sama dengan intensitas yang semakin meningkat.

7. Ia juga bisa mencoba alat lain dalam percobaannya itu, dengan konsekuensi harus mampu menguasai alatnya yang baru itu dengan baik.

8. Perjuangan menguasa alat itu bisa merupakan perjuangan yang mungkin saja menghabiskan umur seseorang sebelum kelihatan hasilnya, sebab dalam hal ini penguasaan alat sama sekali tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan hidup seseorang.

 

Enam Aksioma Aoh September 8, 2009

Filed under: Tips Menulis — fairy2785 @ 7:34 am
Tags: , , , ,

Sastrawan Aoh K Hadimadja (1911-1973) menulis buku “Seni Mengarang”.
Ada sejumlah aksioma-pernyataan yang kebenarannya umum diterima, tak perlu dibuktikan yang bisa dipetik dari buku itu. Saya merangkum, dan sebisanya memberi penjelasan.

1. Pekerjaan mengarang adalah kontinyuitas dalam berpikir dan bekerja, yang tidak boleh diputus-putus.
Ini nasihat yang berat. Tapi mutak dijalani kalau ingin menghasilkan karangan yang hebat. Banyak pengarang yang sampai pada suatu waktu berhenti mengarang. Berhenti mengarang memang bukan dosa. Tetapi hasil puncak yang mungkin akan bisa tercapai bila si pengarang itu terus-menerus menghasikan karangan. Kontinyuitas yang tak terputus-putus bisa diartikan sendiri oleh pengarang paruh waktu – yang masih bekerja di bidang lain sebagai penopang nafkah – atau pengarang yang sepenuh waktunya dicurahkan untuk mengarang.

2. <em>Pengarang itu jiwanya pencari, yang terus-menerus mencari jawab atas rupa-rupa pertanyaan, baik yang bersangkutan dengan jiwa manusia, maupun dengan masyarakat dan ketuhanan.
Pertanyaan adalah pelumas dari kepengarangan. Pertanyaan adalah pendorong ke pencarian. Pencarian pengarang mungkin tidak selalu sampai pada jawaban yang sesungguhnya dari pertanyaan itu. Tetapi pertanyaannya yang baik, yang mewakili pertanyaan dan kerisauan orang banyak, bisa mendorong orang banyak bersama-sama atau bersendirian, mencari jawaban masing-masing.

3. Pengarang dianjurkan untuk sering melakukan perjalanan, mengamati apa yang ia lihat dalam perjalanan dan membuat catatan dari hasil pengamatannya itu.
Perjalanan tidak harus dilakukan oleh jasmani pengarang saja. Perjalanan batin pun bisa menggerakkan pengarang ke wilayah-wilayah kreatif yang tak terduga. Perjalanan jasmani yang tak diikuti oleh batin yang siap mengembara pun akan sia-sia. Batin yang tak siap akan luput mengamati pernik-pernik penting dan menarik sepanjang perjalanan.

4. Pengarang sebaiknya membiasakan diri menulis buku harian. Buku harian bisa menjadi bahan karangan dan bisa juga dianggap sebagai latihan menulis yang sangat baik.
Yang hakiki pada kebiasaan menulis buku harian adalah membiasakan kebiasaan menulis itu sendiri. Buku harian memaksa pengarang untuk memegang pena dan membuka buku, menghidupkan komputer atau laptop. Dalam hidup yang dilewati sehari pasti banyak hal terjadi, di buku harian apa yang banyak itu dipilih yang paling menarik untuk dicatat.

5. Pengarang harus membaca dengan teliti dan disiplin. Buatlah catatan selama membaca dan buatlah tinjauan cerita setelah selesai membaca.
Membaca dengan teliti dan disiplin, bukan membaca yang asal lewat. Membaca adalah sebuah pekerjaan kreatif yang aktif, bukan pasif. Apa yang ditemukan selama membaca sebuah karangan adalah sah milik si pembaca. Maka ia sebaiknya mencatat penemuannya itu. Tinjauan cerita bisa berisi sikap, penilaian pembaca atas apa yang ia baca. Pembaca harus mengambil pelajaran dari apa yang ia baca.

6. Pengarang disarankan untuk banyak menerjemahkan karya-karya sastra yang baik. Menerjemahkan karya sastra adalah sebuah latihan yang sangat baik.
Membaca karya dalam bahasa asing, kemudian menerjemahkannya, mendorong pengarang untuk menggauli karya asing yang ia baca itu lebih intim. Tabir perbedaan bahasa yang dikuak selembar-selembar, sekata demi sekata menawarkan ketegangan dan pengalaman yang mengasah kepekaan si pengarang. Kelak, si pengarang akan terlatih memilih kata untuk menerjemahkan ide yang ada di kepalanya

 

Delapan Pedoman Asrul September 8, 2009

Filed under: Tips Menulis — fairy2785 @ 7:28 am
Tags: , , ,

Dari pengarang-pengarang terdahulu, kita sebenarnya mendapat banyak bahan untuk bersikap arif untuk menjalani dan memasuki dunia kepengarangan – apapun yang kita tulis, prosakah atau puisikah.

1. Pengalaman Jadikan Kesadaran.
Menulis tentang kesusasteraan ialah menulis perihal derita, kegembiraan, kepahitan, dan kemanisan yang telah dialami, pengalaman yang telah jadi kesadaran dan kemudian beroleh bentuk dalam kata yang membentuk kalimat dan kalimat yang menjadikan karangan.

2. Menulislah, Jangan cuma Menangis.
Kita tidak akan dapat menulis karya sastra jika kita menyelesaikan derita kita dengan sebuah keluh atau berurai air mata ataupun mengepalkan tinju. Karena bagaimana murni pun perasaan yang menjadi sumber air mata itu, ia tak akan lebih dari air mata biasa: belum kesusasteraan.

3. Kata yang Liar, Jinakkanlah.
Setiap puisi terdiri dari kata, kata yang liar dan kasar, kemudian dijinakkan oleh penyair dan dipatuhkannya kepada kehendaknya.

4. Yang Tak Mengarang Bukan Pengarang.
Pengarang baru jadi penting kalau ia mengarang. Jika pekerjaan ini tidak ia lakukan, maka tidaklah ia mencampuri kehidupan orang lain, dan karena itu tidak akan kita campuri.

5. Pengarang Penting, Pembaca Penting.
Jika orang menilai karya sastera, maka orang dapat memperhatikan dua hal: pengarangnya, dan orang banyak yang membaca karya sastra. Untuk pengarang, kita menyatakan kepadanya apakah ia telah berlaku sewajarnya, apakah ia jujur, apakah betul dasar kenyataan yang ia kemukakan. Orang banyak itu penting, sebab sebuah karangan belum lagi mencapai tujuannya jika ia baru berbentuk buku belum dibaca. Setiap hasil seni mengandung “beban”, dan “beban” ini dikandungkan untuk dikeluarkan kembali oleh pembaca, dengan cara membaca karangan tersebut.

6. Bacalah, Terharulah, Nikmatilah.
Mengeluarkan isi atau beban hasil seni adalah rahmat karena di dalamnya terkandung keterharuan dan kenikmatan. Ia adalah “nafkah” yang kita dapat waktu kita membaca buku.

7. Kenapa Harus Ada Kritik?
Kritik kesusasteraan dibenarkan sebab ia tidak saja menyatakan dan menyebarkan kesusasteraan yang telah dibuat, tapi karena ia adalah semacam pasukan-pasukan yang termaju ke depan yang akan membebaskan daerah-daerah baru bagi kita dan dengan demikian mempertinggi nafkah kita waktu membaca hasil kesusateraan

8. Media dan Kritik yang Membantu
Majalah-majalah kesusasteraan baru dapat dihalalkan kehidupannya, jika mempunyai kecondongan-kecondongan seperti yang dilakukan oleh kritik, pasukan-pasukan terkemuka ini. Ia membantu orang banyak membentuk kesusasteraan

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.